MOKSA TUJUAN AKHIR
Syarat
Yadnya Berpahala Mulia
Asraddha hutam dattam
tapastaptam krtam ca yat
asadityucyate pursa na
ca tat pretyaneha ca.
(Sarasamuscaya 211).
Maksudnya: Syarat yadnya yang memberikan pahala mulia dengan adanya bhakti,
pemberian yang tulus ikhlas, tapa melaksanakan dharma, tetapi tanpa didasarkan
dengan keyakinan yang sungguh-sungguh, maka perbuatan itu sangat hina. Tidak
akan berpahala mulia di dunia ini maupun di akhirat.
Melakukan suatu kegiatan agama Hindu seperti melakukan yadnya tidak bisa terpisah-pisah.
Beryadnya seharusnya dilakukan secara terpadu antara pikiran, perkataan dan
perilaku. Ketiga hal itu wajib dilakukan tanpa mengistimewakan salah satunya.
Kadang ada yang menyatakan bahwa yang penting pelaksanaan, bukan omongan saja.
Ada juga yang menyatakan yang utama pikiran kita sudah baik. Ada juga yang
menyatakan ucapan yang utama. Sesungguhnya ketiga hal itu memiliki kedudukan
yang setara dan wajib terpadu. Untuk mendapatkan pahala mulia dari yadnya yang
dilakukan ada beberapa syarat yang wajib diposisikan secara terpadu yaitu:
Bhakti adalah sikap hidup yang diwujudkan dengan berserah diri pada Tuhan.
Berserah diri pada Tuhan itu bukanlah bermalas-malasan-- segala persoalan hidup
ini diserahkan pada Tuhan. Berserah diri pada Tuhan itu adalah bekerja dengan
baik, benar, tepat dan wajar. Karena ajaran Karmaphala yang diciptakan oleh
Tuhan mengajarkan bahwa setiap perbuatan akan memberikan pahala sesuai dengan
apa yang diperbuat. Kalau perbuatan yang dilakukan itu baik, benar, tepat dan
wajar, itu pasti berpahala sesuai dengan perbuatan tersebut. Ajaran Karmaphala
inilah yang wajib dipegang kuat-kuat. Mantapkan keyakinan dan tingkatkan
kemampuan untuk melakukan perilaku yang baik, benar, tepat dan wajar. Kapan
perilaku itu memberikan pahala itu hanya Tuhan yang tahu. Yang jelas perilaku
itu pasti akan berpahala seperti yang dilakukan. Hal itu tidak boleh diragukan.
Ini artinya berbhakti pada Tuhan untuk meningkatkan dan menguatkan eksistensi
Atman yang suci. Eksistensi Atman yang kuat akan meningkatkan keluhuran moral
dan menguatkan daya tahan mental. Moral yang luhur dan mental yang kuat sebagai
modal dasar untuk berperilaku baik, benar, tepat dan wajar berlandaskan dharma.
Weweh artinya memberikan. Dalam Wrehaspati Tattwa dinyatakan Daana ngarania
paweweh. Artinya daana namanya perilaku memberikan. Dengan demikian Weweh itu
adalah melakukan daana punia dengan baik, benar, tepat dan wajar sesuai dengan
petunjuk dharma. Bhagawad Gita XVII.20 menyatakan bahwa daana punia yang
diberikan atas dasar kewajiban atau Datavyam dengan tulus ikhlas berdasarkan
Desa, Kala dan Patra. Dalam hal ini Patra itu adalah orang yang baik dan tepat.
Sarasamuscaya 271 menyatakan: Patra ngarania Sang yogia Wehana Daana. Artinya
Patra namanya adalah orang yang sepatutnya diberikan daana punia. Daana Punia
yang demikian disebut Satvika Daana atau pemberian yang berkualitas tinggi.
Dalam Bhagawad Gita IV.33 dinyatakan bahwa melakukan Yadnya dengan ilmu
pengethauan suci atau Jnyana Yadnya jauh lebih tinggi nilainya daripada beryadnya
dengan harta benda.
Tapa dalam Sarasamuscaya 260 dinyatakan: ‘’Tapa kaya sang sosana.’’ Maksudnya,
tapa adalah kuat menahan gejolak hawa nafsu. Sedangkan Wrehaspati Tattwa 25
menyatakan: ‘’Tapa ngarania umati indryania.’’ Maksudnya, tapa namanya mengedalikan
indriyanya. Indriya ini dalam Katha Upanisad I.3-9 diri manusia itu diumpamakan
bagaikan kereta dengan kudanya. Kuda yang menarik kereta diumpamakan indriya.
Sedangana badan kereta diumpamakan badan raga. Pikiran diumpamakan tali lis
atau tali kendali kereta. Kusir kereta diumpamakan kesadaran budhi. Atman
diumpamakan pemilik kereta. Kuda akan dapat menarik kereta dengan sempurna
untuk mengantarkan pemilik kereta pada tujuannya. Artinya badan wadag ini
adalah badan kereta yang ditarik oleh kuda indriya. Ini berarti Tapa itu adalah
memelihara dan melatih indriya agar tetap sehat berfungsi sempurna menurut
alamnya serta patuh pada pengendalian pikiran dan kesadaran budhi. Dengan Tapa
itu manusia dapat mengendalikan indriya-nya yang sehat dan tidak menyimpang
dari kendali pikiran dan kesadaran budhi. Dengan demikian Atman akan semakin
dekat dengan Brahman. Dekatnya hubungan Atman dengan Brahman akan membuat
manusia itu selalu dapat berbuat dalan jalan Dharma. Tanpa Tapa, indriya itu
bisa membawa diri manusia ini terseok-seok ke jurang Adharma menuju neraka.
Ulah Dharma, artinya prilaku yang berdasarkan dharma. Melaksanakan ini bukan
sekadar untuk meraih pencitraan diri di tengah-tengah masyarakat. Namun atas
kesadaran bahwa hal itu wajib dilakukan oleh manusia yang hidup di bumi ini.
Perilaku Dharma menurut Wrehaspati Tattwa 25 ada tujuh yaitu: Sila, Yadnya,
Tapa, Daana, Prawrajya, Bhiksu dan melakukan Yoga. Misalnya, Sila disebutkan:
‘’Mangraksa acara rahayu.’’ Artinya memiliki kebiasaan hidup yang baik.
Prawrajya artinya mengembara menyebarkan Dharma. Bhiksu selalu berupaya
menyucikan diri melepaskan ego atau Ahamkara. Yoga artinya mengendalikan
pikiran untuk bersatu dengan Tuhan.
Sraddha, artinya keyakinan atau kepercayaan yang sungguh-sungguh. Tidak boleh
meragukan kebenaran ajaran tersebut. Hidup penuh keraguan sangat berbahaya
Dalam Bhagawad Gita IV.40 menyatakan: ‘’Samsayaatma vinasyati’’. Artinya barang
siapa yang ragu akan kebenaran tersebut akan hancur. Inilah kunci pengamalan
Bhakti, Weweh, Tapa dan Ulah Dharma. Tanpa keikhlasan dan keyakinan yang
sungguh-sungguh perilaku tersebut disebut perilaku Nista namanya. Melakukan
Bhakti pada Tuhan hanya untuk mencitrakan diri agar dipandang sebagai orang
yang religius tanpa keyakinan sungguh sangat rendah. Demikian pula melakukan
Daana Punia untuk mencitrakan diri agar dipandang orang dermawan juga rendah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar